Ketika Hutan Dicukur Kebutuhan Rupiah

PERUBAHAN iklim dunia semakin hari semakin terasa imbasnya. Berbagai masalah timbul karena factor alam yang tidak lagi bersabat dengan sekitarnya. Beberapa kejadian seperti longsor dan banjir, membuktikan alam sudah murka dengan rekayasa eksploitasi kepentingan pembangunan.

Salah satu bukti nyata rusaknya kondisi alam sekarang, bisa dilihat dari penurunan jumlah area hutan di Indonesia. Fungsi hutan yang seharusnya menjadi penyimbang iklim dunia, dicukur untuk kebutuhan rupiah.

Beraragam dalih dan alasan dijadikanj senjata agar gerung gergaji mesin dan bulldozer dengan leluasa menggasak hutan untuk penetingan pialang kayu dan property. Tanpa disadari, kondisi itu memicu banyak masalah baru yang mengancam kelangsunga jiwa manusia saat ini.

Ditilik dari berbagai kasus, penebangan hutan terjadi karena berbagai factor kelemahan pemerintah mengendalikan pembangunan. Pemberian HPH ke sejumlah perusahaan telah merubah hutan Indonesia menjadi lahan gundul dan tandus yang tidak tersentuh reboisasi. Bahkan semakin gencar pemberian HPH tanpa kendali membuat kecemburan bagi masyarakat sekitar hutan. Hasilnya, masyarakat yang merasa tidak diberikan hak yang sama melakukan pembalakan hutan dengan membabi buta.

Berbicara masalah hutan ini, sepertinya tak perlu mengurut terlalu jauh kebelakang. Baru-baru ini Puluhan kubik kayu hasil pembalakan liar berhasil disita Polisi Kehutanan Polewali Mandar, Sulawesi Barat, di sejumlah kawasan hutan lindung di Kecamatan Tapango, Alu, Tubbitaramanu, dan kawasan hutan lindung lainnya.

Kayu yang diduga akan diselundupkan ke berbagai daerah ini, awalnya ditemukan warga menumpuk di pinggiran sungai. Namun sayang dalam kasus ini, tak satupun pelaku yang berhasil diringkus petugas kepolisian hutan.

Berkaca pada masalah itu, pembalakan hutan di Indonesia makin memperihtainkan saja. Kayu-kayu mentahan yang seharusnya beridiri kokoh dan menjadi penyejuk iklim dunia yang sudah carut-marut, harus tergeletak dipenggal sang algojonya.

Bila dilihat dari berbagai sisi, ada beberapa yang membuat pembalakan liar begitu besar terjadi di hutan tropis Indonesia. Selain karena kelakukan masyarakat hutan, ada masalah klasik lainnya yang selama ini kerap tertutupi. Masalah itu tiada lain soal oknum aparat yang bermain dalam jual beli hasil kayu curian. Bahkan, beberapa kasus pembalakan liar melibatkan oknum aparat.

Menanggapi masalah ini, pemerintah harus segera mengambil tindakan. Selain secara kontinyue memeriksa aparat yang bertugas sebagai pemangku hutan, juga tegas mengambil tindakan kepada oknum aparat yang diduga terlibat dalam pembalakan liar.

Harus disadari betul, ketika hutan dicukur untuk kebutuhan rupiah maka bahaya yang lebih besar akan terus mengancam. Dalam beberapa hari ini, dunia akan memperingati hari kehutanan. Maka selayaknya, momemuntum ini dijadikan sebuah awalan untuk memperbaiki citra Indonesia sebagai Negara yang memiliki hutan terluas ke tiga sedeunia setelah Brazil.

Indonesi harus bisa membuktikan kedunia, mampu memainkan perannya sebagai paru-paru dunia. Dengan itu, Indonesia akan memiliki nilai bargening yang tinggi dengan Negara lain yang memiliki ketergantungan oksigen dari hutan di Indonesia. (rustandi)

Budi Bach V3 © 2012 All Rights Reserved