MAHENG, begitu orang menyebut kampung di perbukitan ini. Semilir angin yang menusuk kulit, menyertai langkah menyusuri keindahan daerah yang berada di Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar ini. Semeliwir aroma pepohonan palawija milik warga, seperti menghilangkan kegersangan dan kepengatan suasana perkotaan. Indah memang alam yang dimiliki Kampung yang satu ini, apalagi, keramahan warga dengan nilai relegi keislaman begitu kental, memberikan arti tersendiri bagi siapapun yang datang ke Kampung Maheng.
Tak elok kayanya, jika hanya mengenal Kampung Maheng dengan mencium aramo alam dan culture pedesaanya saja. Maheng seperti mengajak untuk lebih dalam mengenal keberadaanya yang eksotik dan penuh geliat tanda tanya. Semakin penasaran, hawa untuk mengetahui kampung dengan segudang riwatnya, makin membawa langkah ini masuk untuk mulai berinteraksi dengan penduduk disana.
Beberapa keterangan dari penduduk cukup mencengangkan bahkan membuat ngiris mendengarnya. Maheng yang sekarang, adalah Maheng yang beruwujud hampir 180 derajat dari “kodrat keasliannya”. Daerah yang berada ditepian bukit Gunung Seulawah ini, dulunya daerah yang dijadikan “tanda silang” kontak senjata antara milisi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan TNI.
Pekik peperangan saudara menjadi hal yang tidak aneh lagi bagi penduduk Maheng, mereka terbiasa dengan letupan senjata dan hentakan granat tangan serta molotop. Fenomena hidup yang keras dalam sebuah konflik panjang, membuat penduduk Kampung Maheng, harus bisa bertahan. Tak ayal, hal yang dianggap tabu untuk dilakukan masyarakat biasa, dilakoni penduduk di Maheng.
Ganja, siapa yang tak kenal daun haram ini. Tapi bagi penduduk Maheng saat itu, bercocok tanam ganja adalah pekerjaan yang harus dilakoni untuk menutup kebutuhan hidup. Maheng, menjadi ladang ganja subur dan menjadi ”surga firdaus” bagi para Bandar yang bermain di lingkaran bisnis haram tersebut. Perputaran binis daun ganja, begitu subur dan cepat meski beberapa kali daerah ini menjadi operandi pihak berwajib dan menuntaskan peredaran narkoba khusnya daun ganja.
Dengan bercocok tanam ganja, penduduk berkeyakinan bisa bertahan hidup di tengah faktor peperangan yang menghimpit mereka. Nilai jual sebesar 3 juta/kg yang ditawari pelaku penjualan ganja, jadi daya tarik sendiri bagi warga maheng mempertahankan tradisi sebagai penghasil daun ganja nomer wahid di negeri ini. Meskipun mereka sadar, tindakan yang dilakukannya mengungkung ragam masalah dengan pemerintah terutama pihak berwajib yang begitu gencar memberantasa peredaran Narkoba.
”Anjing menggonggong kafilah berlalu” pribahas itu tepat untuk menggambarkan begitu rusaknya lingkungan Kampung Maheng saat itu. Pasalnya, meski pemerintah berteriak anti narkoba, penduduk Maheng, tetap setia menanam ganja. Bagi mereka ganja adalah harapan satu-satunya untuk bertahan hidup. Meskipun, ada kegiatan lainnya yang sifatnya ilegal dilakukan penduduk di sana yakni pembalakan hutan
Sekilas orang akan berpendapat, dengan menjual ganja kelas internasional, penduduk Maheng hidup bergelimang harta. Pandangan itu salah besar, penduduk Maheng, justru hidup dibawah garis kemiskinan. Bertahun-tahun warga Maheng harus dicekoki kenikmatan semu duniawi dalam bisnis haram yang digelutinya. Pendapatan mereka perorang/hari hany Rp, 10,000. Bisa dibayangkan, begitu susahnya warga Maheng untuk tetap hidup sekedar mempertahankan nafas mereka.
Minimnya pendidikan menjadi latarbelakang warga maheng tertipu manisnya mulut Bandar Narkoba terutama Ganja. Ketidaktahuan untuk melakukan kegiatan lain karena faktor pendidikan tadi, memaksa penduduk Maheng terus menerus bekutik dengan ladang Ganja. Memprihatinkan dan membuat ngiris mendengar cerita ini. Apalagi harus menyaksikan dan mengalaminya.
Maheng di Tangan Sosok Baru ”Tjut Nya Dien” Tanah Rencong
Darwati A. Gani, demikian sosok ibu bagi Penduduk Maheng yang juga istri Gubernur Aceh Nagroe Darusalam Irwandi Yusuf, yang mendobrak perubahan cukup signifikan bagi penduduk Maheng. Berawal dari kunjungan kerjanya ke Kampung Maheng, hati Darwati terketuk dan bertekad merubah kampung ladang ganja di negeri rencong itu menjadi kampung sehat dan sejahtera. Setidaknya, niatan itu menguat memberi angin semangat Bagi Darwati. Ia kini bisa disebut Sosok Baru Tjut Nya Dien Tanah Rencong setidaknya bagi Penduduk Maheng.
Meniti hari tanpa lelah bersama Yayasan Sambinoe, Darwati meyakinkan masyarakat untuk beralih cocok tanam dari Ganja ke tanaman lebih bermanfaat seperti palawija. Tentu tindakan ini bertentangan dengan kebiasaan masyarkat. Namun secara katif Yayasan Sambinoe memeberikan arah dan pendekatan secara culture budaya terhadap sejumlah tokoh masyarakat di Maheng.
”Awalnya kami memang tidak yakin kalau masyarakat di Kampung Maheng, mau mengikuti saran dan program yang dikembangkan pemerintah ini. Tapi Alhamdulillah, semuanya bisa berjalan lancar dan bisa menjadikan Maheng seperti sekarang ini,” cetus Darwati saat dijumpai Tim Sadar belum lama ini.
Diakui Darwati, sepak terjangnya untuk merubah Maheng menjadi kawasan bebas Ganja tidak dilakukannya sendiri. Ada Yayasan lainnya yang membantu Yayasan Sambinoe untuk merealisasikan semua programnya. Kedua yayasan itu Yakni Yayasan Mae Fah Luang dari Thailand dan United Nations Office of Drugs and Crime (NODC).
“Kedua yayasan itu membantu kami untuk menangani semua kendala dan melakukan treatment yang pas buat masyarakat Maheng,” cetus Darwati menerangkan keterlibatan yayasan yang selama ini membantu dirinya bekerja.
Pendekatan yang dilaksanakan terhadap masyarakat, imbuh Darwati menyambung obrolannya, dilakukan dengan beberapa fase. Tahapan itu meliputi kebutuhan jangka pendek, menengah dan panjang. “Kita juga sadar merubah pola hidup masyarakat tidak segampang membalikan tangan. Jadi, kita bagi beberapa tahapan untuk mengembangkan Kampung Maheng ini sebagai pilot projek bagi semua daerah di Aceh,” tambahnya.
Salah satu tahapan yang dilakukan, mempersiapkan para petani untuk beralih usaha dari menanam ganja menjadi menanam sejumlah pohon hutan. Ini dilakukan agar mereka mengerti kalau dengan menanam pohon seperti Nangka, Rambutan dan Mahoni. “Sementara kita dan tim lainnya juga mempersiapkan lahan untuk membangun areal pesawahan dan perkebunan palawija,” jelasnya.
Lebihjauhnya Darwati menerangkan, tidak hanya perubahan alam yang dibangun bersama masyarakat, namun perubahan pendukung seperti infratsruktur dan kelayakan rumah hunian masyarakat juga dibanguan secara simultan. “Kita berusaha membangun itu semua, meski belum sempurna. Tapi hasilnya, bisa anda lihat sekarang. Ini jauh dari Maheng yang saya kenal dulu,” terang istri nomer satu di Aceh tersebut.
Maheng ini adalah kampung semua. Masyarakatnya adalah bagian dari Aceh dan Indonesia. ”Dari Maheng kita semua yakin Aceh tanpa Ganja akan berhasil dituntaskan,” pungkasnya.
Menyulap Ladang Ganja Jadi Palawija
Hamparan ladang palawija dari berbagai jenis, menghampar hijau begitu rata dan indah menyejukan mata memandang. Kabut tipis yang merangkak pulang, mengiringi penduduk kampung Maheng menyusuri pematang ladang panjang menuju ke perkebunan mereka masing-masing. Perbicangan kecil dengan sempalan tawa ringan, makin membuat keakraban penduduk Maheng beraktivitas.
Ratusan hektar bahkan mungkin ribuan hektar lahan palawija, tersebut tersulap dari ladang ganja beroma bisnis haram masyarakat Maheng. Memang, kini Maheng bukanlah Maheng yang dulu. Kampung itu telah bercermin dari kaca masa lalu dan merubah diri menjadi Kampung Sehat dan Sejahtera meski petilasan ganja tak bisa terhapus dari lembaran masyarakat Maheng.
Hasil jeripayah yang dibangun penduduk Maheng dengan steakholder, sudah bisa terasakan. Sekarang, keuntungan yang dihimpun dari usaha palawija dan lainnya sudah mencapai Rp, 4 miliar. Begitu pantastis dan sungguh diluar dugaan bagi siapapun yang sempat mengenal Maheng pada masa dulunya.
Selain menggantungkan hidupnya dari bertani, kini masyarakat Maheng juga bisa merasakan usaha lain seperti beternak. Di Desa Maheng saat ini sudah terdapat peternakan kambing ettawa, peternakan bebek juga pembudidayaan ikan mas. Hasil dari bercocok tanam dan beternak tersebut sebagian dijual di Koperasi Samame dan sebagian dibagikan pada masyarakat untuk dinikmati
Semenjak itu, lahan-lahan ganja disekitar mereka hilang berganti dengan lahan sayuran dan peternakan. Keberhasilan Desa Maheng untuk mandiri dan bebas dar ganja akan menjadi proyek percontohan bagi seluruh kawasan ladang ganja di Aceh. Desa Maheng bahkan direncanakan akan menjadi desa ekowisata (rustandi)


