Menengok Derita TKW

Daftar nama Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang disiksa majikannya di negeri kaya minyak Arab Saudi terus bertambah. Sinta Marliana Reza,19, warga kampung Cigadog, Desa Sukajaya, Kecamatan Tanggeung, Cianjur selatan, disiksa majikanya di Mekah hingga kedua matanya buta. Tubuh dan tanganya, dipenuhi bekas luka pukulan dan setrikaan. Itu terjadi, saat sinta bekerja selama 10 bulan di seorang saudagar Hysam Munawar Maksum di Mekah.

Sinta, hanya mengecap tiga bulan kebebasannya setelah lulus dari bangku SMK PGRI Cianjur. Dia terbujuk rayu sponsor kampung yang membawanya ke PT Dasa Grahautama di Cipinang Jakarta untuk menjadi TKW. Satu bulan lebih, Sinta yang bertubuh putih dengan berat badan 60 KG berada di Penampungan.

Dalam kontrak atau perjanjian kerja, Sinta ditempatkan di seorang sudagar kaya bernama, Hysam Makmur Azmasum yang staf di Kedutaan Besar. Sayang, itu berbeda dengan fakta yang harus diterima Sinta. Saat kakinya menginjak negeri Unta disana, bunga desa itu hanya bekerja di rumah seorang Dosen dengan nama hampir serupa yakni Hysam Munawar Maksum.

Awalnya dia disambut ramah, sebelum duka yang menjadia bagian hidupnya menghampiri. Nestafa itu datang, ketika Sinta baru bekerja tiga bulan. Di sebuah rumah di apartemen lantai tiga, Sinta mulai menjalani hari-hari buruknya. Dia kerap ditempelang, kepalanhya dibenturkan bahkan disetrika hingga dicambuk dengan kebel. Sadisnya, Sinta yang masih remaja itu, kerap terkena bogem mentah di mukanya hingga kedua matanya harus buta.

Ditemui dirumahnya, Sinta yang didampingi kerabat perempuannya, duduk dengan tatapan kosong sembari mencoba menceritakan kisah pilunya kepada budibach.com, Dia bertutur, karena kesalahan mengsertirka sorban milik Hysam, kedua tangannya di setrika. Parhanya, perlakukan itu dilakukan secara bersama-sama dengan istri dan anak majikan prianya.

“Waktu itu saya mensetrika sorban milik majikan pria. Karena mata sudah tidak bisa melihat, akhirnya kancing yang berada di sorban lepas. Kesalahan itu, membuat sitri majikan saya marah dan melaporkannya ke pada majikan pria. Tangan saya dipegang oleh dua orang anak dewasnya serta istri Hysam, kemudian saya disetrika beberapa kali”

Sinta mengkau tak bisa melawan, dia hanya berteriak dan menagis. Tapi usahanya untuk meminta tolong sia-sia. Taka ada satu orangpun, kata Sinta, yang mau mendengar teriakannya meminta tolong. Kedua tangan yang terbakar, jelas Sinta, dibiarkan Hyasim hingga kembali mengering.

Sinta, mengaku pernah diajak berobat ke sebuah klinik di Mekah. Itupun, jelasnya, karena luka dibagian belakang bekas setrikaan Hysam serta matanya yang sudah dipastikan tidak bisa melihat. Namun, papar Sinta, setelah kondisi membaik, siksaan kembali diterimanya.

Tak kuat menahan sakit, Sinta beberapa kali meminta dipulangkan. Tapi, sang majikan yang merasa perbuatannya takut terbongkar menolak permintaan Sinta. “Saya beberapa kelai meminta untuk pulang tapi selalu ditolak oleh majikan pria. Padahal saya sudah tidak kuat lagi untuk bekerja dan terus disiksa,” tutur Sinta dengan nada lirih.

Bulan Nopember 2005, aku Sinta, dia akhirnya dipulangkan melalui Bandara Jedah. Itupun, tambah Sinta, dirinya diancam Hasym agar tidak menceritakan semu apenyiksaan yang dialaminya pada pihak yang berwenang di Indonesia . “Pokonya saya diancam agar tidak menceritakan semua kejdaian di rumah majikan baik pada keluarga ataupun pihak yang berwajib. Saya hanya disuruh diam atau berbohong telah jatuh dan lain halnya,” papar remaja yang bercita-cita ingin jadi dokter itu.

Mata Sinta yang buta membuat dia terpapah-pah menaiki tangga kapal terbang di bandara Jedah Mekah Arab Saudi. Untung saja, nasib masih berpihak kepada dirinya. Sat berada di dalam pesawat Sinta ditemani dua orang TKW asal Cirebon dan Subang. Dua orang itulah, yang merawat dan menjaga dirinya di dalam ruangan kapal.

“Memang pas saya pulang sengaja di berangkatkan dengan para TKW yang hendak pulang ke Indonesia . Tapi saya beruntung karena ada TKW dari Subang dan Cirebon yang peduli kepada diri saya,” aku Sinta saat menceritakan perjalanan pulangnya ke tanah air.

Setibanya di Bandara Soekarno Hata, terminal III, tutur Sinta, dia langsung dilarikan ke Kilinik bandara oleh seorang pramugari. Sebelumnya, atas bantuan Pramugari tersebut, Sinta sempat mengontak salah seorang kakaknya di Tanggeung Cianjur selatan, Yani Mulyani, 28, memberi kabar kedatanganya.

Sinta masuk Klinik sekitar jam 9.00 Wib, dan baru bisa bertemu kakaknya pada pukul 11.00 WIB. Menurut Dokter di Klinik bandara, aku Sinta, dirinya harus dirujuk ke Rumah Sakit Polri. Di RSU Polri, diketahui retina kedua mata Sinta lepas dan mengalami pengendapan darah serta katarak. Akibatnya, Sinta kembali harus dirujuk ke Rumah sakit Tjipto Mangungkusomo, karena kondisi luka yang dideritanya cukup parah.

Sinta sendiri baru bertemua ibunya pada hari Minggu, sat itu sinta masih berada di rumah sakit Polri. Saodah kepada Budibach.com mengaku, biaya perobatan Sinta saat dirawat di RSU Polri dan Tjipto mangungkusomo, ditanggung PT Dasa Grahautama.

Niat Mendulang Real, Pulang Penuh Luka

Gaji Satu Tahun Dibayar 15 Ribu

KEPULANGAN Sinta ke Indonesia, ternyata bukan akhir cerita duka. 10 bulan dirinya mengabdi, ternyata hanya dibayar 6 real atau sebanding dengan Rp 15 ribu rupiah. Padahal, gaji yang dijanjikan pihak PT kepada sinta sebesar 600 real per bulan atau sebandaing 1,5 juta perbulan.

Sinta mengaku, dirinya tak pernah digaji selama bekerja di keluarga Hysam. Jangankan gaji, makan sehari-hasri saja, aku Sinta, dirinya hanya dijatah satu kali. Otomatis, berat tubuhnya drastis berkurang. Bayangkan, saat sinta berangkat ke ke Jakarta, Ibu Sinta, Saodah, menyebutkan putri keduanya itu mempunyai berat 60 Kg. Tapi, selepas darri Mekah, Sinta hanya berbobot 45 Kg. “Tubuh anak saya itu begitu kering saat pertama kali saya lihat di Rumah Sakit Tjipto Mangungkusomo Jakarta,” jelasnya

Sinta yang ditemui BUDIBACH.COM mengenakan baju tidur dan terduduk di kusri rumahnya, menjelaskan, uang 6 real yang diterimanya, diperoleh dari majikan pria ketika akan pulang. Dia tak menyangka uang yang ada dalam amplop tersebut 6 real. Maklmum, saat itu, mata Sinta sudah benar-benar tidak melihat.

Padahal kalau diperhitungkan, selama bekerja sepuluh bulan, Sinta seharusnya menerima gaji sebesar 15 juta rupiah. Hal itu diakui Sinta, karen pihak majikan beralasan kalau gaji Sinta telah habis dipakai untuk berobat selama sinta menjalani perawatan di salah satu klinik di Mekah Arab Saudi. Padahal kata Sinta, dirinya hanya satu kali dibawa ke klinik itupun tidak dirawat inap.

Sinta, sebelum dipulangkan sempat beberapa kali mengajukan Gaji. Namun, ungkap Sinta pihak majikan selalu menolkanya dengan beribu alasan. Hingga akhirnya, terang Sinta, dia mengajukan satu bulan gaji sebagai bekal diperjalan. “Saya beberapa kali mencoba meminta gaji namun tidak berhasil, saya mencoba meminta satu bulan gaji terkahir, itupun tetap tak diberi majikan,” terangnya.

Setiap kali meminta gaji, tutur Sinta, dia diberinya bogem mentah dan sejumlah siksaan fsisk yang menggunakan alat seperti kabel, tongkat dan setrikaan. Tak ayal, hal itu membuat perempuan yang berniat melanjutkan sekolahnya kejenjang bangku kuliah itu lebih menderita.

“Sempat satu kali pihak majikan akan memberi uang gaji selama satu bulan, itupun saya harus kembali bekerja selama satu bulan sebelum pulang. Saya tak sanggup jadi memilih pulang tanpa membawa uang sepeserpun,” papar Sinta dengan nada yang mulai terbata-bata.

Ironisnya, hingga saat ini Sinta belum mendapat uang pengganti kecelakaan atau Asuransi dari PT yang memberangkatkannya. Padahal Sinta sudah berada hampir satru bulan di rumahnya setelah dirawat selama 2 bulan di rumah sakit Tjipto mangungkusumo Jakarta.

SINTA ingin Matanya Kembali

“AKU Ingin Lihat Mamah”

KAPOK, itu lah yang diraskan Sinta saat ini, dia tak sudi lagi menginjak negeri kaya minyak arab menjadi TKW. Kebutaan dan luka disekujur tubuhnya akibat siksaan majikan, membuat dia menyesali keberangkatannya ke Arab Saudi. Padahal, orang tuanya telah menyarankan agar Sinta mengurunkan niatnya menjadi TKW.

Saat ini tak banyak harap dari Sinta, ia hanya ingin matanya kembali bisa melihat seperti semula. Dia berkeinginan, melihat kembali muka-muka keluarganya terutama Mamahnya yang dianggap Sinta selalu menyayanginya.

“Saya ingin lihat mamah pak, bagaiman mamah sekarang. Dia pasti sedih melihat saya seperti ini, apalagi saya sudah banyak merepotkan dia sebelum dan sesudah berangkat,” tutur Sinta kepada wartawan di rumahnya.

Suaranya lirih, ketika dia mengatakan kalau kemungkinan matanya hanya bisa melihat dengan jarak pandang maksimal 40 CM. Itupun, jelas Sinta bola matanya harus diganti baru. Untuik satu bola mata, aku Sinta, membutuhkan dana Rp 25 Juta.

Dirumahnya, sesekali tangan Sinta yang tidak bisa lurus akibta pergelangan tangan patah, meraba dan menebak-nebak muka-muka orang yang sedang berbincangn dengan dirinya. Dia sadar betul, uang untuik mengganti kedua bola matanya, mustahil bisa dicukupi oleh kedua orang tuanya, Teteng dan Saodah. Sehari-hari, orang tua Sinta hanya mengandalkan hidup dari penghasilan warung nasi yang berada diperempatan Cigadog.

Sinta ngotot, kalau yang bertangung jawab terhadap dirnya adalah pihak PT dan majikannya di arab sana. “Saya tetap akan menuntjut hak saya sebagai seorang TKW teraniaya (Muskilah), karena sebelumnya saya telah menandatangani kontrak yang berisi butir-butir perjanjian termasuk jika diri saya menjadi korban kekerasan,” tuntut Sinta kepada PT yang telah memberangkatkannya ke negeri unta.

Sementara ini, tambah Sinta, dia telah mempercayakan kepada kakak iparnya yang bekerja di salah satu instansi hukum di Cianjur untuk mengurus semua proses dirinya. Tapi, harap Sinta, pihak pemerintah khususnya Depateman tenaga kerja mau membantu dirinya menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.

Cacat mata yang kini dideritanya, tak mambuat sinta putus asa. Dia yakin kalau matanya bisa kembali sembuh dan normal walaupun memerlukan waktu dan uang yang begitu besar. Dia berharap, gaji dan asuransi yang dijanjikan PT kepada dirinya bisa segera diterima untuk mengobati semua luka disekujur tubuhnya khususnya mata.

SAODAH Minta Diusut Tuntas

IBUNDA Sinta, Saodah, 45, minta kasus yang menimpa anaknya bisa diusut tuntas oleh pihak yang berwajib. Ibu setengah baya itu tidak menerima jika anaknya itu harus buta seumur hidupnya.

Ibu dua anak itu, baru menerima kabar dari anak pertamanya Yani Mulyani, 28, pad ahari sabtu malam pertengahan bulan Nopember tahun lalu. Saat itu, Yani mengbarakan Sinta telah pulang dan dirawat di Rumah sakit Tjipto Mangungkusomo Jakarta.

Awalanyas, kata Saodah yang ditemui budibach.com di warung nasinya, tak menyangka kalayu Sinta hingga menderita kebutaan. Dibenaknya, dia mengira kalau Sinta hanya disiksa. “Begitu saya mendengar berita dari anak saya Yani, memang sudah terbayang kondisi Sinta waktu iotu, namun saya tidak meyangka kalaun Sinta akan mengalami kebutaan,” papar Saodah.

Dia baru tahu kalau Sinta menderita kebutaan, setelah melihat dan mendengar dari tim dokter di Tjipto Mangunkusomo tentang kondisi kesehatan sinta secara menyeluruh. Mendengar laporan dari Dokter, ungkap Saodah, dirinya kaku tak bisa mengatakan apap-apa. Saodah hanya bisa melihat tubuh Sinta di atas ranjang putih rumah sakit yang saat itu masih dipenuhi luka bakar dan pukulan.

“Siapa yang tega melihat anaknya seperti itu, perasaan saya bercampur antara marah dan sedih. Tapi, saya terdiam dan hanya melihat Sinta yang terus meronta sembari memanggil nama saya,” ungkapnya sedih bercampur emosi.

Dia mengutuk majikan Sinta yang telah melakukan kekerasan t6erhdap nakanya. Menurutnya, pihak pemerintah atau PT yang memberangkatkan Sinta wajib untuk mengusut tuntas permasalahan tersebut. “Walaupun Saya buta hukum, tapi sedikitnya tahu kalau perbuatan yang dilakukan majikan anak saya itu salah,” tegas Saodah

Saodah meminta kepada pihak PT agar segera memberikan uang asuransai yangdijanjikan pihak PT kepada kelauraganya. Saodah mengaku, hingga saat ini belum mengetahui besaran uang asuransi yang akan diterima anaknya.

Bagaimana dengan tanggung jawab PT Selama ini,? “Pihak PT memang menginginkan menyelesaikan permasalahan Sinta dengan cara kekeluargaan. Tapi hingga saat ini kita belum tahu kekeluargaan seperti apa yang dimaksud oleh PT, sementara datang kerumah pun belum pernah. Mereka hanya satu kali datang ketika mengantarkan Sinta pulang dari rumah sakit,” jawab Saodah.

Kasus Sinta bukan kalai pertama terjadi di kabupaten Cianjur. Sebelumnya, Imas Maesaroh, warga Kecamatan Sindang Barang, juga mengalami nasib yang sama. Sayang, permasalahan yang menimpa TKW dari Kota pengeksport TKW ke negri arab ini, tidak pernah terselesaiakan dengan tuntas. Bahkan para TKW gagal (muskilah) terkadang kerap dijadikan bulan-bulanan oknum-oknum PT di Jakarta sehingga hak-hak mereka tidak pernah sampai ketangannya.

Budi Bach V3 © 2012 All Rights Reserved