ubuh kecil itu terusik dari tidurnya diatas dipan berukuran 1,5 meter dan beralaskan busa tipis. Matanya berkeliling mencari suara sambil menahan sakit luka disekujur tubuhnya. Ya, itulah Varik Kristiani, anak 16 tahun pasutri Mitra Sujana, 45, dan Dedeh, 43, warga kampung Jatinunggal, Desa Sindangjaya Kecamatan Ciranjang,
berjuang mempertahankan nyawanya dengan tubuh digeroti penyakit misterius yang dideritanya sejak memasuki umur 4 tahun.
Hidup baginya adalah perjuangan panjang dengan penantian, dia tak henti-hentinya berdoa, agar tuhan Yesus mengangkat penyakit yang mengendap selama 12 tahun di tubuhnya. Optimis adalah modal semangat hidupnya walau sesekali rasa pesimis menghantuinya.
Luka yang kini menjadi bagian dari hidupnya, berawal saat dirinya menginjak umur 4 tahun. Saat itu, dikantong kemihnya mucul gelumbung dan kemudian menjadi luka borok yang menganga. Hanya berselang dalam hitungan hari beberapa bagian tubuhnya langsung melepuh.
Sejak itu varik yang terlahir tanggal 25 September 1990 lalu, mulai menjalani penderitaan dalam hidupnya. Tak pelak, teman sepermainnya menghindari dirinya bahkan mengejek denga kata-kata kotor. Ia sadar dirinya bukan lagi Varik yang saat dilahirkan dari rahim ibunya. Hal itu, membuat dirinya mengurung diri didalam rumah yangberukruan 5 x 7 meter. Saat itu, penyakit yang dideritanya makin menjadi hingga seluruh tubuhnya melepuh dan mengeriput.
Varik tak bisa lagi berbuat banyak walaupun untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Semua kebutuhannya benar-benar tergantung pada kedua orang tuanya. Anak bungsu dari dua bersaudara itu, akhirnya pasrah dengan apa yang menimpa hidupnya. Walaupun cita-cita untuk sembuh tetap menggantung di benaknya.
Ditemui dirumahnya yang berjarak sekitar 25 kilo dari kota Cianjur dan berada di sekitar daerah waduk Cirata Calincing Cianjur, Varik tetap tampak tegar. Walaupun luka-luka menganga dibeberap bagian tubuhnya yang terbuka dari celana hitam pendek dan kemeja panjang kotak-kotak biru, dia berusaha bangkit walaupun batal karena luka dipunggungnya kembali terasa.
Menurut Varik, dirinya tidak bisa makan seperti orang normal lainnya. Hanya nasi tumbuk dan itupun terbuat dari beras Raskin dirinya baru bisa makan. Jika mengkonsumsi nasi biasa, maka dalam tempo yang singkat dari dalam tubuhnya keluar darah kental yang bisa membahayakan nyawanya.
Sesekali, tangan Varik terlihat menggaruk beberapa lukanya dan tak pelak saat itu juga darah terlihat mengucur. Di tubuhnya yang begitu kecil, tampak beberapa perban menutupi lukanya tak terkecuali di bagain lubang telinganya.
Diakui Varik, jika tanganya terlalu kuat menekan tubuhnya dari luka yang ada bisa keluar cairan putih yang kemudian disusul darah. Tragis memang, tapi itulah kenyataanya. Anak yang akan merayakan paskah itu tetap tergolek di pelataran halaman rumahnya dengan desiran angin yang sesekali membuatnya pusing.
Dirumahnya, Varik hanya tinggal bersama dua orang tuanya dan satu keponakannya. Rumah itu, diakui Varik memberikan dirinya satu ketenangan sehingga setiap ada kesempatan tak jemu-jemu mulutnya bersyukur kepada Yesus sang juru selamat.
Sawah Warisan Hilang untuk Biaya Berobat
Varik adalah Varik dan apapun kondisinya tetaplah seorang anak yang juga membutuhkan kasih sayang. Hal itu sangat dirasakan ayah Varik, Mitra Sujana. Untuk kebahagian anaknya, di rela kehilangan harta benda warisan orangtuanya.
Diakui Mitra, selaku ayah dirinya telah membawa varik beroabat ke beberapa rumah sakit termasuk RSHS Cianjur. selama itu, aku Mitra, dirinya telah menghabiskan puluhan juta rupiah hasil penjualan tanah warisan seluas setengah hektar yang berada tidak jauh dari lokasi rumahnya



